Jakarta, AwakBerita.com – Dalam upaya mendukung pemulihan psikologis korban bencana alam di Sumatera, Polda Riau menggandeng 30 psikolog dari berbagai kampus di provinsi tersebut. Program ini bertujuan memberikan trauma healing dan dukungan mental bagi masyarakat yang terdampak bencana, seperti banjir, longsor, dan gempa bumi. Kapolda Riau menekankan pentingnya perhatian terhadap kondisi psikologis korban. Ia menyatakan bahwa pemulihan fisik dan logistik saja tidak cukup; kondisi mental juga harus diperhatikan agar masyarakat dapat kembali produktif dan menjalani kehidupan sehari-hari dengan normal.
“Kami memahami bahwa bencana meninggalkan luka tidak hanya secara fisik, tetapi juga psikologis. Dengan bantuan psikolog kampus, kami ingin memberikan pendampingan yang tepat sehingga korban bisa pulih lebih cepat,” ujar Kapolda.
Para psikolog yang libatkan dalam program ini melakukan pendekatan individu maupun kelompok. Mereka memberikan konseling, terapi bermain bagi anak-anak, serta metode relaksasi dan coping strategy bagi orang dewasa. Selain itu, para psikolog bekerja sama dengan aparat kepolisian setempat untuk mengidentifikasi korban yang paling membutuhkan dukungan psikologis.
Metode Trauma Healing dan Dampak Positif
1. Metode Pendekatan Psikologis
Para psikolog menggunakan berbagai metode trauma healing yang sesuaikan dengan usia dan kondisi korban. Untuk anak-anak, pendekatan melalui terapi bermain, seni, dan bercerita gunakan agar mereka bisa mengekspresikan perasaan secara aman. Sedangkan untuk dewasa, konseling individu dan kelompok menjadi fokus utama untuk membantu mereka mengatasi rasa cemas, depresi, dan ketakutan pasca-bencana. Selain itu, psikolog juga memberikan pendidikan psikologis kepada keluarga dan relawan, agar mereka mampu mendukung proses pemulihan secara berkelanjutan di rumah atau lingkungan sekitar. Pendekatan holistik ini memastikan dampak psikologis bencana dapat minimalisir dalam jangka panjang.
2. Dampak Positif Program Trauma Healing
Kolaborasi antara Polda Riau dan psikolog kampus memberikan dampak nyata. Banyak korban melaporkan penurunan tingkat kecemasan, stres, dan trauma setelah mengikuti sesi healing. Anak-anak yang sebelumnya mengalami ketakutan berlebihan kini mulai aktif bermain kembali, sementara orang dewasa menunjukkan peningkatan semangat untuk kembali produktif. Program ini juga memperkuat hubungan antara kepolisian, akademisi, dan masyarakat. Polda Riau menunjukkan bahwa peran polisi tidak hanya dalam hal keamanan, tetapi juga peduli terhadap kesejahteraan mental masyarakat. Sementara itu, keterlibatan psikolog kampus memberi kesempatan bagi mahasiswa dan dosen untuk mengaplikasikan ilmu mereka dalam konteks nyata.
Program trauma healing oleh Polda Riau bersama 30 psikolog kampus menjadi contoh kolaborasi efektif antara aparat keamanan dan akademisi dalam menangani dampak bencana alam. Pendekatan psikologis ini tidak hanya membantu korban pulih secara mental, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan mental pasca-bencana. Langkah ini menegaskan bahwa penanganan bencana harus komprehensif, mencakup pemulihan fisik, logistik, dan psikologis, agar masyarakat terdampak dapat kembali menjalani kehidupan normal dengan penuh optimisme.