Cak Imin Tanggapi Isu Gus Yahya Mundur Dari Kursi Ketum PBNU

Cak Imin Tanggapi Isu Gus Yahya Mundur Dari Kursi Ketum PBNU

Jakarta, AwakBerita.com – Isu pergolakan internal NU semakin memanas setelah desakan agar KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mundur dari jabatan Ketua Umum PBNU. Di tengah keguncangan ini, Muhaimin Iskandar (Cak Imin), Ketua Umum PKB, akhirnya buka suara lebih tegas. Responsnya tidak hanya bersifat politik praktis. Tetapi juga pandang publik sebagai bagian dari manuver dalam persaingan ideologis dan struktural di tubuh NU PKB.

Hubungan antara PKB dan PBNU bukanlah perkara baru sejak lama ada tarik-menarik antara peran ulama dan politik praktis. Sejumlah pengamat menilai desakan agar Gus Yahya mundur sebagai Ketum PBNU bisa jadi merupakan momen strategis untuk PKB. Pernyataan ini pun mempertegas bahwa konflik internal NU kini mengandung dimensi politik yang lebih dalam.  Menurut pengamat, manuver ini justru bisa menjadi “poin kemenangan” bagi Cak Imin. Karena menandakan bahwa jaringan yang pro-PKB dalam NU mulai mendapat angin segar dari kiai sepuh.

Respons Cak Imin: Tegas, Namun Hati-hati

  1. Tuduhan Pelanggaran Khittah NU
    Cak Imin menyatakan bahwa beberapa pernyataan Gus Yahya telah melanggar khittah NU prinsip dasar pendirian NU yang mengatur relasi organisasi NU dengan aktivitas politik. Menurut Cak Imin, kritik Gus Yahya terhadap PKB bukan sekadar pandangan organisasi. Tetapi melewati batas structure-organisasi NU yang seharusnya netral dalam beberapa aspek tertentu.

  2. Strategi Politik yang Halus
    Ia menolak klaim bahwa PKB sedang mengambil alih PBNU. Ketidakhadirannya dalam sejumlah undangan dari PBNU juga menunjukkan sikap bahwa dia menegakkan konstitusi partai dan organisasi bukan sekadar bermain di arena NU. Dalam satu pernyataan publik, Cak Imin menyebut dirinya siap “ngopi bareng” dengan pemimpin PBNU seperti Gus Yahya atau Rais Aam. Namun menekankan agar pertemuan itu tidak campuri kepentingan politik.

  3. Perbandingan Kepemimpinan Ulama Kiai Sepuh
    Menariknya, Cak Imin membandingkan posisi Gus Yahya dengan para pendahulu PBNU seperti Kiai Said Aqil Siradj dan Kiai Hasyim Muzadi. Ia memuji keduanya karena anggap tetap menghormati konstitusi organisasi NU dan tidak mencampuri urusan politik PKB secara agresif. Dengan perbandingan ini, Cak Imin seolah mengirim pesan bahwa kepemimpinan Gus Yahya anggap menyimpang dari tradisi dan kesepakatan historis antara NU dan PKB.

Implikasi Politik & Organisasi

  • Kemenangan Simbolis bagi PKB
    Menurut sejumlah pengamat, meskipun Cak Imin tidak secara terbuka mengamini semua desakan internal PBNU, momen “desakan mundur” terhadap Gus Yahya bisa jadi memperkuat narasi PKB sebagai aktor penting dalam struktur NU.
  • Risiko Polarisasi dalam NU
    Pernyataan Cak Imin bisa memperdalam perpecahan dalam tubuh NU. Ada potensi terbentuk dua blok: satu yang mendukung posisi ulama lebih mandiri dari partai politik (versi PBNU pimpin Gus Yahya), dan satu yang lebih pro-politik atau pro-jaringan PKB.
  • Pesan kepada Kader Nahdliyin
    Dengan sikapnya, Cak Imin tampak menyampaikan bahwa PKB punya komitmen terhadap tradisi ke-NU-an, tetapi juga tidak segan untuk memperjuangkan peran dan pengaruhnya terutama di konstelasi politik nasional.

Potensi Arah Ke Depan

  • Negosiasi Internal
    Konflik ini bisa berujung pada dialog lebih terbuka antara PBNU dan PKB. Cak Imin menawarkan “ngopi bareng” sebagai simbol keterbukaan. Tetapi isyaratnya tetap menjaga jarak agar urusan organisasi NU tidak reduksi menjadi alat politik semata.
  • Manuver Politik Menuju Pemilu
    Jika PKB mampu menguatkan narasi bahwa jaringan NU mendukung manuver politik Cak Imin, ini bisa menjadi keuntungan elektoral di pemilu selanjutnya. Namun, langkah ini harus jalankan dengan hati-hati agar tidak menimbulkan resistensi dari kalangan ulama yang lebih tradisional.
  • Revitalisasi Khittah NU
    Situasi ini bisa menjadi momen bagi NU untuk mengevaluasi kembali peran khittah dalam keseimbangan antara ormas keagamaan dan partai politik. Kiai sepuh dan elite organisasi lain mungkin akan menyusun kebijakan internal agar konflik semacam ini tidak merusak marwah NU.

Respons Cak Imin atas isu desakan mundur Gus Yahya dari ketua umum PBNU bukan sekadar pembelaan politik. Lewat pernyataannya, ia mencoba menggambarkan dirinya sebagai penjaga khittah NU sekaligus pemimpin partai yang strategis dalam politik nasional. Konflik ini jelas memiliki dimensi ideologis dan struktural yang bisa berdampak luas tidak hanya bagi hubungan PBNU dan PKB. Tetapi juga untuk arah masa depan Nahdlatul Ulama di panggung politik.