Chromebook Pernah Disetop Kemendikbud Sebelum Era Nadiem

Chromebook Pernah Disetop Kemendikbud Sebelum Era Nadiem

Jakarta, AwakBerita.ComSebelum era Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim, penggunaan Chromebook di sekolah Indonesia sempat hentikan oleh Kemendikbud. Keputusan ini ambil setelah evaluasi terkait kesiapan infrastruktur, anggaran, dan efektivitas penggunaan perangkat tersebut dalam pembelajaran. Chromebook sebelumnya diperkenalkan sebagai bagian dari upaya modernisasi pendidikan digital, namun implementasinya menemui sejumlah kendala yang membuat Kemendikbud menunda penggunaannya.

Penghentian ini menimbulkan pertanyaan dari berbagai pihak, terutama guru dan sekolah yang telah mulai beradaptasi dengan perangkat berbasis cloud tersebut. Chromebook dikenal sebagai laptop ringan dengan sistem operasi berbasis cloud, yang memungkinkan akses cepat ke aplikasi pendidikan dan penyimpanan data online. Meskipun potensinya besar, penerapan di sekolah membutuhkan dukungan jaringan internet yang stabil, kapasitas teknis guru, dan program pendampingan yang memadai.

Kemendikbud menilai bahwa beberapa sekolah belum siap menghadapi transformasi digital yang mengandalkan Chromebook. Perangkat ini membutuhkan koneksi internet yang konsisten dan server berbasis cloud, yang belum merata di seluruh Indonesia. Selain itu, tenaga pendidik juga perlu mendapatkan pelatihan khusus agar penggunaan Chromebook efektif dalam kegiatan belajar mengajar.

4 Penyebab Chromebook Pernah Disetop

Terdapat empat penyebab utama yang mendorong Kemendikbud untuk menghentikan sementara penggunaan Chromebook di sekolah sebelum era Nadiem:

  1. Infrastruktur Internet Belum Merata
    Banyak sekolah di Indonesia masih menghadapi keterbatasan jaringan internet. Chromebook yang bergantung pada cloud menjadi tidak optimal ketika koneksi internet tidak stabil, sehingga pembelajaran digital terganggu.
  2. Anggaran dan Biaya Pemeliharaan
    Pengadaan dan pemeliharaan Chromebook membutuhkan anggaran yang cukup besar, termasuk biaya lisensi aplikasi pendidikan, perawatan perangkat, dan upgrade infrastruktur jaringan. Kondisi ini membuat implementasi massal menjadi sulit.
  3. Kesiapan Guru dan Tenaga Pendidik
    Guru memerlukan pelatihan khusus untuk memaksimalkan penggunaan Chromebook dalam pembelajaran. Kurangnya kesiapan tenaga pendidik menjadi salah satu faktor utama penghentian perangkat ini sementara waktu.
  4. Ketidaksiapan Sistem Pendukung Sekolah
    Chromebook bekerja optimal dengan sistem manajemen pendidikan berbasis cloud. Banyak sekolah belum memiliki sistem pendukung yang memadai, termasuk server, akun Google Workspace for Education, dan manajemen konten digital.

Setelah evaluasi dan penyelesaian masalah tersebut, penggunaan Chromebook mulai perkenalkan kembali secara bertahap di era Nadiem Makarim. Pendekatan yang lebih terstruktur, pendampingan guru, dan peningkatan infrastruktur digital menjadi kunci keberhasilan implementasi Chromebook di sekolah-sekolah Indonesia.

Keputusan awal Kemendikbud untuk menunda penggunaan Chromebook menunjukkan bahwa transformasi pendidikan digital memerlukan perencanaan matang, kesiapan infrastruktur, dan pelatihan tenaga pendidik. Hal ini menjadi pelajaran penting dalam modernisasi sistem pendidikan, agar inovasi teknologi dapat terapkan secara efektif dan merata di seluruh pelosok negeri.